Memelihara Botia

Ikan BotiaBotia adalah ikan air tawar yang dapat dipelihara di dalam berbagai wadah sebagaimana ikan air tawar lainnya. Namun Karena botia adalah ikan hias yang di ekspor ke berbagai negara sejak tahun 1935, hal itu membuat harga ikan ini menjadi mahal. Karenanya, budidaya ikan botia hanya dilakukan di bak bak berukuran kecil  dan akuarium. Hanya pengusaha ikan skala besar yang mempunyai tempat penampungan besar (raiser) yang bisa memelihara ikan hias ini di dalam bak bak berukuran besar sebelum akhirnya dikirim ke pembeli.

Ikan botia biasa dipelihara dengan dicampur dengan ikan hias jenis lain di dalam wadah pemeliharaan yang berukuran besar sebagai bagian dari upaya adaptasi ataupun penampungan sebelum dikirim ke pembeli.

Selama ini ikan botia yang diperjual belikan kebanyakan berasal dari penangkapan alam. Dengan begitu pemeliharaan yang dilakukan terhadapnya pun bukan dimaksudkan untuk membesarkan ikan itu, melainkan untuk domestikasi, adaptasi atau pemeliharaan di dalam akuarium sebagai ikan hias.

Prinsip budidaya ikan botia tidak berbeda dengan budidaya ikan air tawar lainnya, baik sebagai ikan hias maupun konsumsi. Karena itu, botia dapat dipelihara di kolam air tawar hingga keramba jaring apung (KJA). Namun demikian, untuk menghasilkan ikan hias, penggunaan wadah pemeliharaan yang besar tidaklah efektif, terutama dalam mengontrol pertumbuhan dan perkembangan ikan. Dalam budidaya ikan hias, ikan tidak hanya dikondisikan untuk tumbuh normal, tetapi juga harus dijaga kecemerlangan warnanya, karena warna merupakan salah satu penentu utama nilai penjualan ikan hias, oleh sebab itulah budidaya ikan botia lebih cocok dilakukan pada wadah wadah berukuran kecil, seperti kolam, bak , keramba, hampang atau akuarium.

Kolam

Kolam untuk pemeliharaan ikan botia adalah kolam air mengalir. Menurut ahli biologi indonesia, Adi Nugroho kolam yang ideal untuk ikan botia adalah kolam yang mudah diairi dan dikeringkan. Kolam dapat dibuat berupa tanah atau gabungan tanah dan beton. Untuk yang terakhir ini, pematang dan saluran kolam dibuat dari beton.

Pematang harus dibuat sesuai dengan fungsinya, yaitu sebagai penahan air dari dalam jadi, harus kuat dan kokoh. Pematang tanah harus dibuat dari tanah yang kompak dan kedap air sehingga sesedikit mungkin kebocoran yang terjadi. Bentuk pematang tanah yang umum adalah trapesium sama kaki dengan kemirringan kaki 1 : 1, lebar atas 1 – 1,5 m, lebar bawah 3 – 4,5 m dan tinggi 1 – 1,5 m. Untuk pematang yang dibuat dari beton tidak harus lebar di bagian bawah.

Saluran kolam juga dapat berupa saluran tanah atau beton. Bentuk saluran adalah trapesium terbalik. Saluran harus didesain sedemikian rupa agar aliran air yang terjadi tidak menimbulkan erosi terhadap dasar maupun dinding saluran sehingga menimbulkan endapan lumpur di dalam kolam. Kecepatan air di dalam saluran tanah harus diusahakan agar berkisar antara 0,5 – 0,7 m/detik.

Pintu kolam dapat dibuat sebagai pintu terbuka, teruat dari papan atau gabungan antara beton dan papan yang disebut pintu monik. Pintu juga dapat dibuat dari bambu atau pipa PVC. Kolam yang baik mempunyai pintu pemasukan dan pengeluaran air yang berbeda, sehingga air kotor yang dibuang tidak mungkin masuk lg kekolam.

Kolam untuk budidaya botia harus disiapkan terlebih dahulu. Beberapa hari sebelum penebaran benih, kolam harus diperbaiki, seperti pematang, pintu dan saluran. Dasar kolam dicangkul dan diratakan. Setelah itu, dasar kolam ditaburi kapur 100 – 150 kg/ha dan diberi pupuk organik 300 – 1000 kg/ha. Setelah dipupuk, kolam diairi sedalam 20 cm dan dibiarkan 3 – 4 hari agar terjadi reaksi antara pupuk dan kapur. Pada hari ke 5 air kolam ditambah hingga ketinggian 50 – 100 cm. Karena ikan botia suka bersembunyi, ke dalam kolam dimasukkan potongan pipa, genteng atau ban bekas. Agar di dalam kolam cukup teduh, permukaan kolam dapat ditutup dengan daun kelapa.

Benih botia berukuran 2,5 – 3 cm ditebar ke dalam kolam pada hari ke 6. Kepadatan benih di dalam kolam antara 80 – 100 ekor/m2. Penebaran dilakukan pada saat cuaca teduh, pagi atau sore hari. Ikan botia diberi pakan berupa cacing merah, cacing tanah, kutu air, pelet, udang rebon, cincangan daging ikan atau cincangan daging udang sebanyak 5 – 10% bobot biomassa. Caranya, pakan ditebar ke kolam sore hari menjelang malah. Harus diingat bahwa ikan botia aktif pada malam hari.

Setelah 2 bulan pemeliharaan, botia akan mencapai ukuran 3-5 cm. Ikan siap dipanen untuk dipasarkan. Pemeliharaan dapat dilanjutkan dengan menurunkan kepadatan penebaran menjadi sekitar 50 – 80 ekor/m2.

Bak

Budidaya ikan hias di bak kini sudah umum dilakukan. Bak biasanya dibangun di dalam ruanga dengan bahan beton atau papan dan kayu yang dilapisi plastik. Saat in juga telah tersedia bak bak yang terbuat dari fiberglass atau plastik sehingga penempatan dan pemindahannya menjadi lebih mudah.

Agar tercipta suasana alami di dalam bak, maka pemeliharaan botia dilakukan dalam sistem air mengalir. Kedalaman air di dalam bak adalah 50 – 80 cm. Ke dalam bak dimasukkan potongan pipa PVC atau genteng sebagai tempat persembunyiannya.

Kepadatan ikan bisa dihitung seperti pemeliharaan di kolam. Ikan botia berukuran 2,5 – 3 cm ditebar 80 – 100 ekor/m2. Selama pemeliharaan, ikan diberi pakan berupa cacing merah, cacing tanah, kutu air, pelet, udang rebon, cincangan daging kan atau cincangan daging udang sebanyak 5 – 10% bobot biomassa. Patokan dosis 5 – 10 % bukanlah patokan pasti. Jumlah pakan yang diberikan harus disesuaikan dengan nafsu makan ikan. Jadi, setiap kali memberikan pakan, saat itu pula harus dilakukan pengamatan.

Keramba

Keramba atau sangar adalah wadah yang dgunaka untuk memelihara ikan yang ditempatkan dalam air yang dangkal sehingga sebagian keramba muncul diatas permukaan air. Keramba pemeliharaan ikan dapat ditempatkan di sungai, wadu, danau atau saluran irigasi.

Keramba dapat dibuat dengan bilah bambu dengan kerangka kayu, bambu bulat dengan kerangka kayu, papan dengan kerangka kayu/balok atau jaring dengan kerangka kayu. Bentuk keramba berupa kotak atau empat persegi panjang. Untuk memudahkan pemberian pakan dan pemanenan maka pada tutup keramba dibuatkan pintu.

Keramba sungai harus ditempatkan pada bagian yang tidak berarus, karena ikan botia menyukai air tenang. Botia ukuran 3 – 5 cm ditebar dengan kepadatan 30 – 40 ekor / m2.

Hampang

Hampang atau en (fence) adalah badan air yang dikurung pagar, untuk memelihara ikan. Secara ekologis, budidaya ikan botia dalam hampang merupakan gabungan antara kolam dan keramba. Bersifat sebagai kolam karena ikan ikan berhubungan dengan tanah dasar badan air dan sebagai keramba karena massa airnya merupakan bagian langsung dari badan air keseluruhan.

Untuk membuat hampang, bahan yang digunakan sebagai pagar adalah bilah bambu, jaring atau kawat anyam. Bahan bilah bambu atau papan disusun seperti krel, yang selanjutnya disebut hampang. Hampang diikatkan di tonggak yang ditancapkan di dasar badan air dan berfungsi sebagai kerangka. Dasar hampang dibenam dalam tanah sedalam 20 – 30 cm dan hampang bagian atas mencuat hingga sekitar 50 cm diatas permukaan air. Untuk memudahkan pengoperasian, hampang dipasang dibadan air dengan kedalaman kurang dari 2 m.

Ukuran benih ikan botia yang dibudidayakan di hampang ditentukan oleh ukuran celah atau mata jala / kawat anyam bahan hampang. Karena itu, untuk membudidayakan botia berukuran 3 – 5 cm digunakan jaring halus. Botia ukuran 3- 5 cm ditebar dengan kepadatan 40 ekor / m2.